Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 12

Mulia tak Harus di Tempat Mulia



Hari ini seperti biasanya, aku dan teman-temanku dipajang di depan toko, menunggu seseorang datang dan membeli salah satu dari kami, kemudian memakainya, agar hidup kami menjadi bermakna.
            Sudah hampir dua bulan sejak aku dibuat, sejak itu pula aku berpindah-pindah toko. Setelah sekian kali aku diperjual belikan, namun belum ada seorang pun diantara mereka yang memungutku. Hari-hariku menjadi hari penantian. Kuharap kali ini, di toko kecil ini, seseorang memungutku untuk mengakhiri penantian ini dan membuat hidupku menjadi lebih berarti.
            Dua jam sudah, di hari pertamaku sejak toko ini pertamakali dibuka. Tak sedetikpu dari dua jam itu kulewatkan untuk memohon pada yang maha kuasa agar seseorang memungutku. Aku sangat senang setiap kali mendengar.. “pamaaan” atau “permisiii” pertanda seseorang datang untuk membeli sesuatu. Namun kekecewaan yang tiada tara menusuk hatiku saat dia berkata “tukar yaa” tanpa memngutku, atau setidaknya melirik padaku atau datang dan memilah-milahkami, hal itu sudah sangat berarti. Wajar lah, sandal jenisku ini sudah ketingalan jaman di era ini. Hanya orang kampungan yang mau membeli kami.
            Srek.. srek...
Tiba-tiba, seseorang menyentuhku tanpa tanda dan aba-aba sebelumnya...
            “Yang mana Dek, yang ini?” tanya pemilik toko sambil menunjukkan slah seorang dari rekanku.
            “Yang itu Man, yang warnanya biru”. Sahut seorang anak kecil, seraya menunjukkan jarinya kearahku. Aku sangat gembira melihatnya.
            “Nomor enam ini Dek? Ini pas sama kaki kamu?” tanya paman toko kembali, sambil memungut salah seorang rekanku yng lain. Prasaanku mulai tak karuan.
            “buka man, yang disampingnya itu lo, nomor sebelas” sahutnya seraya melompat-lompat meraihku karna tubuhnya yang kecil.
            “ini ya? Harganya 7500”
Ctus... tarik pemilik toko, memisahkanku dari rekan-rekanku. Dalam hati aku merasa sangat senang seseorang memilihku. Disisi lain aku tidak tega melihat teman-temanku masih tergantung didepan toko untuk menunggu pembeli lain memilihnya.
Aku mulai berfikir betapa besar anugerah dari tuhan untuk manusia, karena hidup mereka ditakdirkan untuk memilih, namun begitu masih banyak manusia bodoh yang memilih kebakhilan. Sedang kami hanya pasrah untuk dipilih dan tidak dapat menentukan akan menjadi apa kami nantinya, tergantung pemilik kami, begitupun juga padaku.
            Setelah dibungkus dalam kantongan plastik hitam. Bocah yang aku ingin tahu sekali namanya agar aku dapat berterimakasih dan mendoakannya ini membawaku seraya mengayun-ayunkanku di jari telunjuk tangannya. Ya..? kebahagiaan yang aku lihat dari wajahnya, begitupun aku seandainya dia tau apa yang aku rasakan, dan dapat melihat bagaimana aku menunjukkan kebahagiaanku ini.
Setelah sekian menit berlari. Anak itu mengucap salam dan mengetuk pintu. Kemudian dia masuk kedalam rumah setelah seseorang membukkannya.
“wa’alaikumussalaaaam, sandalnya dapat Dimas? Seraya membukakan pintu
“ini loh kek.. kebetulan yang warna biru dengan ukuran sebelas tinggal satu” seraya menyerahkanku kepada lelaki tua itu.
            Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara azan Zuhur berkumandang, Lelaki tua itu segera mengeluarkanku dari bungkus plastik kemudian membuka kemasan yang sudah lama membungkusku. Udara pertama yang ingin aku hirup setelah sekian lamaadalah udara di jalan yang diridhai Allah bathinku.
            “Dimas makasih ya, cucu kakek pinter, sudah adzan Dzuhur ayo Dimas siap-siap sholat. Kita kelanggar” kata orang tua itu lembut sembari meletakkanku di bawah pintu didepan rumahnya.
            “Iya Keeek, kita berangkat sama-sama, jangan lupa ya! Kakek pakai sandal yang Dimas belikan tadi”. Jawab Bocah itu.
            Lagi-lagi kebahagiaan yang kurasakan, lelaki ini memasukkan kaki kanannya untuk pertama kali seraya samar kudengar membaca basmalah, “Bismillahiroohmanirrohim” kemudian membaca “Alhamdulillah” beriringan dengan memasukkan kaki kirinya. Dia bersama Bocah yang sekarang aku tau namanya itu segera beranjak meninggalkan rumah dan berjalan menuju langgar yang tak jauh dari rumah.
Sesampainya di masjid, Kakek berwudhu kemudian masuk ke masjid, sedangkan Aku menunggu di luar. Disini Aku bayak bertemu teman sejenis, walaupun dengan wajah dan bentuk berbeda-beda, aku termasuk yang biasa. Aku tetap bangga karena bisa berguna untuk kebaikan.
Setiap harinya aku diajak Kakek pergi menemanianya kemasjid, untuk shalat berjamaah, atau kerumah tetangga jika ada undangan hajatan bahkan ke pasar sampai kesungai. Terkadang kami kehujanan, kepanasan,  melalui jalan becek, atau berbatu, semuanya kami lewati bersama dengan senang hati dan bahagia. Tak lupa juga aku bersyukur karena aku selalu dibawa ketempat-tempat yang bermanfaat dan tidak pernah dibawa ke tempat maksiat bahkan yang sia-sia.
Tak terasa sudah dua bulan berlalu, keadaanku mulai memburuk, tubuhku mulai melemah, belum lagi pasak yang mengaitkan tubuhku dengan tali agar aku berfungsi dengan baik hampir putus. Aku sedih, tidak ada yang bisa kulakukan aku hanya bisa berdoa agar terus berguna untuk kebaikan.
Ctus.... oh tidak salah satu pasak yang mengaitkan tubuhku dengan tali putus, bagaimana ini? Aku panik, tiba-tiba Kakek melepasku, dan membawaku pulang kerumah.
“Dimaaas...” suara Kakek berteriak.
“Apa keeek”, sahut Dimas
“Ambilkan tang, tempat paku, dan lilin” perintah Kakek.
“Iya Kek”’ jawab Dimas.
Aku masih bingung akan menjadi seperti apa aku nantinya, aku tidak tahu apa yang akan kakek perbuat dengan tang, paku dan lilin. Namun aku tetap menunggu dan akan menerima apapun pilihan yang akan kakek lakukan terhadapku.
“Ini Kek”, kata Dimas sambil menyerahkan banrang-barang yang diminta kekeknya
“Hemm... korek apinya mana? Tanya Kakek.
“Sebentar, nanti Dimas ambilkan” Sahut Dimas.
Setelah Dimas mengambil korek api, kulihat Kakek menyalakan lilin dan membakar paku kecil yang sudah dijepit dengan tang.
“Buat apa Kek?” tanya Dimas.
“Buat benerin sandal” jawab Kakek
“owh....” gumam Dimas
Aku terus menunggu apa yang akan kakek lakukan. Beberapa saat setelah kakek memanaskan paku, paku itu terlihat memerah. Kemudian dengan cepat kakek menusukkan paku tersebut pada bagian tali yang pasaknya terputus. Sehingga paku yang melintang dapat menjadi pengganti pasakku yang sudah putus. Walaupun tidak sebaik sebelumnya, namun aku masih bias untuk digunakan. Aku senang kakek tidak mebuangku, meski keadaanku sudah tidak lagi sempurna.
“Taraa....” kata Kakek sambil menunjukkan paku yang menembus salah satu ujung tali pengait tubuhku yang sudah diperbaiki kepada Dimas.
“waah... Kakek hebat, sandalnya jadi bisa dipakai lagi” puji Dimas.
“Betul mas, tapai sandal ini sudah buruk, Kakek tida munk gkin memakainya lagi untuk dibawa jalan-jalan” timpal kakek.
“loh, kalo gitu sandalnya dipake buat apa dong?” tanya Dimas bingung.
“Dimas mau tau?” pancing Kakek.
“Iya Kek” sahut Dimas bersemangat.
“Belikan Kakek sandal yang baru dulu dong!” pinta Kakek kepada Dimas.
“oke deh..., tapi setelah Dimas belikan sandal baru, Kakek kasih tau ya sandalnya mau dipakai untuk apa....” sahut Dimas.
“okeee” kata Kakek sambil mengacungkan Jempol.
Kakek segera membungkusku setalah Dimas pergi untuk membelikan sandal baru penggantiku. Dalam bungkusan plastik hitam yang gelap, aku terus bertanya-tanya. Akan digunakan untuk apa aku? Untuk maksiat? Tidak aku mohon jangan ya Robb, atau untuk melakukan hal yang sia-sia? Aku juga tidak menginginkan hal itu ya Allah.
Krsek.. kresek...
Suara plastik yang membungkusku dibuka. Aku bersiap menyambut pemilik baruku, atau dimana aku akan digunakan. Sentuhan yang bisa aku pastikan kalau itu tangan kakek menjintingku, mengeluarkanku dari dalam plastik.
Setelah kurasakan tubuhku mendarat pada sesuatu. Aku tidak melihat apa-apa diluar sini, bahkan wajah kakek. Aku hanya merasa berada diatas lantai kasar yang lembab dan sangat gelap. Kemudian kakek meninggalkanku.
Sesaat setelah kudengar kakek menutup pintu. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. “Ctek....” tiba-tiba cahaya lampu diruangan ini menimpa mataku, silau sekali. Dalam kesilauan ku yang berangsur memulih, samar kuliahat langit putih tepat diatasku. Setelah kuperhatikan dengan sekasama, langit itu tidak terlalu laus, hanya seukuran dua meter persegi.
Seiring pandanganku semakin membaik, perlahan aku menurunkan pandnagan untuk meliahat dan memastikan dimana aku berada saat ini. Kulihat didepanku ada bak mandi yang besar dan tinggi, disampingnya ada closet WC, kemudian gayung mandi, tempat sabun dan isinya. Sekarang aku di tempat buang hajat pikirku.
Kekecewaan serentak menyerang pikiranku. Hal yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya. Begitu teganya kakek menempatkanku disini. Lebih baik aku digunakan untuk maksiat dan berbuat sia-sia daripada harus menapaki rumah setan setiap harinya, batinku.
“oh, disini ya sandalnya kek”, kudengar suara Dimas dibalakangku.
“iya dimas, habis WC kita tidak ada sandalnya”
“kenapa harus di WC kek, kasian kan sandalnya, setiap hari dipakai untuk nginjak najis”
“bukan begitu Dimas, daripada kaki dimas langsung yang nginjak najisnya terus dibawa kemana-mana lalu najis semua, ayo gimana?”
“iya sih kek, tapi bagaimanapun juga, sandal ini kan sebelumnya kakek bawa untuk kebaikan terus, masa akhirnya hanya untuk alas kaki di WC”
“nah itu dia, melindungi kita dari najis itu juga sebuah kabikan loh. Dimas tau gak, kalo Rosululloh itu setiap ke tempat buang hajat pakai alas kaki”
“gak tau kek?”
“pantas saja, nah mulai sekarang pakailah sandal setiap didalam WC, karna itu sunnah Rosululloh”
“oh.. begitu yaa, iya deh kek, Dimas akan selalu pakai sandal kalo di dalam WC”
“nah begitu.. Cucu pintar”
Dalam kegelapan ini aku aku terfikir lagi betapa beruntungnya aku, walau aku tidak berada ditempat yang mulia, namun aku masih berguna untuk hal yang mulia. Disinilah aku akan berakhir, menggunakan sisa-sisa kehidupanku. Dan aku merasa bangga telah menjadi bagian dari sunah Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

Created By: Harits Nasrulloh
Edited By : Khalid Muttaqin

Jumat, September 5

Sepatu Kaca



Di malam yang dingin Bunga-bunga Sepatu Kaca mulai memekar. Membentuk mahkota-mahkota gemerlapan berwarna merah di atas tangkainya. Lambaian angin yang lembut menerbangkan serbuk sari bunga Sepatu Kaca pada bunga yang lainnya hingga tak tersisa sedikitpun. Itulah musim kawin Bunga Sepatu Kaca.
Namun tidak semua bunga dapat tersentuh oleh angin dan kehilangan serbuk sarinya, dia adalah bunga perawan yang nasib jodohnya ditentukan oleh makhluk-mkhluk lain disekitarnya. Namun demikian bunga ini adalah bunga terindah diantara bunga-bunga yang lain, karna serbuksari yang menawan belum tersentuh sedikitpun.
Bunga Sepatu Kaca perawan tak elak menarik perhatian Lebah ganas yang terbang tertatih-tatih diterpa angin.  Sang bunga bersolek serbuk sari nan anggun tampak elok darimanapun, sehingga tidak hanya Lebah yang jetuh cinta pada Sepatu Kaca merah nan menawan itu, namun Kupu-kupu dan Semut pun ingin memeprsuntingnya.
Lebah adalah makhluk yang pertamakali menyatakan cintanya pada Sepatu Kaca. Tidak ingin bidadarinya diambil begitu saja Semut dan Kupu-kupu mengerahkan berbagai upaya agar Sepatu Kaca tertarik pada mereka dan menjadikan Lebah benci pada Sepatu Kaca.

Senin, Maret 31

Meski Hujan tak Kunjung Reda


Hujan tak kunjung reda, sudah lebih dari setengah jam aku bersama beberapa mahasiswa lain berteduh disini. Disebuah bangunan panjang berlantai dua dengan pelataran kecil didepannya. Bangunan yang berlabelkan B2 ini menjadi bangunan yang palinga sering aku kunjungi, meski banyak bangunan-bangunan indah lain di kompleks Islamic Center kota Palangka Raya lainnya. Namun karena bangunan inilah kebanyakan ruang kelas yang aku gunakan, menjadikan setiap hariku ada disini.
Tiang-tiang balok kokoh yang berderet sepanjang pelataran bangunan dan bunga-bunga yang tumbuh tepat dibawahnya, begitu ramah saat dipandang. Menjadikan bangunan ini semakin terasa istimewa bagiku.
Tepat di tiang terpojok sebelah kanan bangunan ini. Tempat dimana aku menyandarkan diriku, menunggu hujan yang kian lebat mendera, sembari melakukan hal kesukaanku, mengamati dan menerjemahkan prilaku orang-orang yang aku lihat. Kesukaan yang juga menjadi kelebihanku atas kehendak Tuhan.

Sabtu, Februari 15

Obat Malas

Di suatu sekolah agama, di sebuah desa pinggiran kota yang tidak terlalu jauh tertinggal dengan perkembangan jaman. Ada seorang guru yang sangat terkenal dengan nasihat-nasihat bijaknya. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, sekolah agama Nahdlatussalam ini tidak terlalu ketat dalam kedisiplinan namun sangat menuntut  atas kesadaran diri pelajar masing-masing. Hal ini membuat sebagian anak semena-mena dengan waktu kedatangannya ke sekolah. Bahkan ada sebagian anak yang biasa bolos sekolah.
Suatu hari guru yang bernamakan lengkap Qomarudin ini telah mengajar dalam sebuah kelas yang disana terdapat seorang murid yang sangat malas. Teman-temannya memanggilnya Hadi sipemalas. Karena ia selalu berkata aku malas atau aku tidak biasa untuk setiap perintah yang diberikan kepadanya. Hadi bukanlah anak yang bodoh, dia jenius namun sayangnya kejeniusannya itu tidak begitu populer dikalangan orang banyak. Saat itu ia menginjak kelas dua Aliyah sederajat, namun berangkat sekolah selalu berjalan kaki disamping teman-temannya yang berangkat sekolah dengan kendaraan. Sudah itu dengan sendal pula, padahal rumahnya jauh dari sekolah. Bukan karena Hadi tidak punya sepeda, ditambahlagi jalan yang dilaluinyapun becek. Melihat sikapnya itu, sang guru yang biasa disapa dengan pak Qomar itu pun tertarik untuk menanyakan mengapa ia berbuat demikian? Lantas Hadi menjawab dengan tegasnya,
“Pak guru, saya berjalan kaki kesekolah karena saya malas mengendarai sepeda kesekolah. Itu karena saya malas untuk memasang rantai sepeda yang selalu lepas, dan itu membuat baju saya kotor sehingga Ibu saya memarahi saya sa’at mencuci baju saya. dan saya pergi kesekolah dengan sendal karena sepatu saya yang kotor dan saya malas untuk membersihkannya lagi pula memasang sepatu itukan lama karna saya harus mengikat talinya terlebih dahulu”.
 Mmendengar ucapan muridnya guru yang terkenal dengan nasihat-nasihatnya itu berkata.

Api Semangat di Kampungku

Setelah mengikuti ujian akhir semester genap, seluruh mahasiswa mendapatkan libur panjang sekitar dua bulan. Namun aku tidak dapat menikmati libur sepanjang dua bulan itu karna berbagai kegiatan yang harusku lakukan. Bulan Ramadhan pun akhirnya Aku jalani di tanah orang. Hal biasa yang terjadi saat awal Ramadhan di Negeri berlambang garuda ini ialah penentuan tanggal 1 Ramadhan, Banyak opsi-opsi dari berbagai aliran yang berpendapat berbeda-beda tentang itu. Seperti kota yang aku dami dibulan suci ini sebagian masyarakatnya ada yang mulai berpuasa sehari terlebih dahulu daripada waktu yang telah dtetapkan oleh pemerintah, ingin mengkut seperti kata pepatah dimana kaki berpijak disitu lah aku berada, dengan ikut puasa terlebih dahulu, namun ayahku selalu mengajarkan untuk ikut aturan seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah, walaupun terkadang ada aturan pemerintah yang tidak aku taati. Ya di kota cantik Palangka Raya ini aku jalani bulan ramadhan dengan penuh kekhusyu’an walaupun ingin sekali rasanya berpuasa dikampung halaman sendiri, menikmati hawanya yang segar dengan alaminya tanah disana tanpa bangunan-bangunan yang megah seperti di kota ini yang mungkin karna itulah dinamakan kota cantik. Sholat tarawih di masjid dekat rumahku bersama saudara dan teman-temanku yang selalu aku rindukan. Berbuka puasa bersama keluarga menjadi momen yang paling akunanti-nanti.
Penantian selama dua puluh Sembilan haripun berakhir. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang meributkan tentang awal dan akhir Ramadhan, tahun ini Lebaran tampaknya akan dilakukan secara bersamaan di negeriku tercinta Indonesia ini, wlaupun ada banyak hal yang aku tidak suka. Hatiku mulai membayang-bayangkan keadaan kampungku yang telah aku tinggal selama 1 tahun kurang sedikit itu mulai saat aku mengayuh selenger mesin kendaraanku. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya aku sampa di Kapuas yang sebenarnya merupakn kota dari tempatku berada, aku masih harus menempuh 6 Km lagi untuk sampai kekampung halaman tempat aku dibesarkan, walaupun aku tidak dilahirkan di desa itu. Selagi aku berada di pusat perbelanjaan kota, Aku gunakan kesempatan itu untuk membeli pernak pernik khas lebaran yang tidak akan tertinggal setiaptahunnya di hidangan kelurga kami, yaitu minuman bersoda. Kulanjutkan perjalanan hingga 15 menit kemudian tibalah aku dirumah. Tidak ada hal yang berubah disekitar rumahku, hanya saja bangunan yang baru selesai berdiri disamping rumahku yang sudah mulai dibangun saat aku meninggalkan kampung sehingga aku tidak begitu terkejut saat melihatnya. Dialah tetangga baru yang pendiam.
“assalamu’alaikum” salamku didepan pintu sambil mengetukkan punggung jari tengahku ke atas pintu tersebut. Lalu kuulangi lagi setelah tidak ada jawaban yang aku harapkan terdengar.
“asslamualaikum”.. sambil menglangi hal yangku lakukan saat salam ku yang pertama. Tak berapalama terdengar suara berisik bak berlari-lari kecil menghampiri sepeda baru yang dibelikan oleh ayah untuk anaknya dari dalam rumahku seraya menjawab salamku dengan setengah berteriak. Dari langkah kakinya aku sudah tahu jika mereka akan berebut membukakan pintu untukku, ya mereka adalah dua adik mungilku yang umurnya selisih empat tahun, tapi mereka sangat menekmati masa kecilnya bersama-sama.
“wa’alakum salam, bang Irfan datang umi” teriak adik bungsuku girang saat menemukan aku yang berdir dihadapannya. Lalu mempersilahkanku untuk masuk ke rumah. Kedua adik keclku itu masing-masing Hanif dan Hasan dari yang tertua. Mereka mulai menempelkan tubuhnya padaku. Menggiringku dari depan pintu ke dalamrumah sambil mengenggam tanganku, namun bukan tanganku yang ia maksud melainkan kantong plastik yang sedangku bawa, lalu kubiarkan dia membawa kontongan plastik penuh makanan favoritnya itu yang akan membuatku leluasa menemui olang yang paling aku rindukan selama ini, dialah ibuku tercint. Langkah demilangkah ku telusuri lorong-lorong menuju kamar ibuku dan disanalah kutemui dia dengahn wajah penuh kerinduan yang mendalam, “oh irfan anakku” tuturnya seraya memeluk erat dan menjabat tanganku. Tak tertinggal ciuman kasih sayang di pipi kanan dan kiri ku, hingga terobati sudah kerinduanku pada keluarga. Hanya saja ayahandaku yang tidak dapat aku temui saat itu karena masih berada di Jakarta. Namun belum sepenuhnya terobati jika aku tidak menjumpai teman-teman satu perjuanganku dimasa SMA dulu.
Hari itu hari terakhir ramadhan, namun puasa masih berjalan seperti hari-hari biasanya. Setelah kuhabiskan segelas air putih, segeraku tinggalkan rumah untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib di masjid yang jaraknya 500 meter dari rumah seraya berharap akan menemui teman-temanku yang biasa melaksanakan sholat berjamaah dimasjid. Namun lepas dari harapanku, tidak satupun teman-temanku yang basa sholat di masjid ada saat itu. Akupun berperasangka bahwa mereka sedang sibuk melaksanakan buka puasa dirumah sehingga tidak sempat sholat ke masjid. Maghrb itupun aku adzan, iqomat, dan sholat sendiri. Tapi sepulang dari sholat maghrib kutemui mereka nongkrong di pos kamling dekat masjid. Sedih rasanya melihat pemandangan yang mengerikan itu, padahal mereka semua sekolah agama sama seppertiku dulunya. Aku masih berharap mereka melakukan sholat di rumahnya. Sampai saat sholat isya hampir tiba, kukunjungi rumah teman-temanku yang biasa melaksanakan sholat dimasjid untuk mengajaknya kembali sholat dimasjid. Mungkin bagi sebagian orang sikapku ini aneh, tapi bagi teman-temanku itu hal yang sudah sangat biasa. Sesampainya dimasjid untuk melaksanakan sholat isya berjamaah, satu hal lagi yang membuatku sangat kecewa. Seisi masjid itu dipenuhi dengan jamaah anak-anak semuanya, tidak ada satupun orang dewasa yang akan mengimami sholat isya tersebut. Karna kebetulan aku hadir disitu, maka akulah yang menjadi imamnya. Selesai sholat isya, ku tahan sejenak teman-temanku yang ingin segera pulang untuk memeriahkan malam idul fitri, untukku ajukan beberpa pertanyaan yang membuatku benar-benar penasaran.
Semua mulai duduk melingkar seperti yang telah aku instruksikan. Jadilah kami seperti konsfrensi bundar tanpa meja di dalam tempat yang paling mulia dikampung halamanku, sebut saja Anjir. Kami mulai saling bercerita tentang keadaan kami selagi kami terpisah, dengan bahasa kampungku yang khas, membuat wajah-wajah lelah mengerjakan puasa sebulan penuh menjadi muka yang penuh dengan pancaran cahaya kegembraan. Perkumpulan seperti ini sudahbiasa kami lakukan saat kami sekolah setingkat SMA dahulu, sepulang sekolah kami langsung menuju satu-satunya masjid di kampung kami itu dan melaksakan sholat juhur berjamaah, setelah sholat juhur kami mulai berkumpul untuk sharing tentang masalah sekolah, agama, wanita dan apa pun yang ingin kami ungkapkan. Setelah cukup kurasa mendengar curhat-curhat mereka yang hampir meluluhkan airmata, aku mulai mengutarakan maksud dan tujuanku mengumpulkan mereka kembali. Mereka pun mulai bercerita tentang kedaaan kampung selam aku tinggalkan dengan alur cerita berantakan namun saling melengkapi satu samalain, saling tuduh untuk menyalahkan karena meraka merasa menjadi pelaku yang terlibat dalam kekacauan itu.
“sungguh menyedihkan keadaan kampung saat kau tinggalkan Fan, langgar kosong anak-anak mudanya hanya bermain gitar dan catur setiap harinya, lebih parahnya lagi mereka biasa berjudi, minum-minuman keras, bahkan mereka tidak malu lagi membawa wanita secara terang-terangan ke daerah kampung sini.” Tutur salah seorang temanku
“Kalaupun ada orang dilanggar itupun hanya anaka-anak saja, aku paling. Setelah adzan dan iqomah jika tidak ada orang dewasanya kami sholat sendiri-sendiri saja. Kami tidak ada yang berani menjadi imam, imam itukan tanggung jawabnya besar” kata salah seorang temanku lagi. Aku hanya menggelengkan kepala merespon apa yang mereka sampaikan tanda ketidaksetujuanku.
“sekarang teman-teman lebih asyik dengan hand phonenya daripada mengaji tadarrusan Al-qur’an dimasjid padahal ramadhan-ramadhan sebelumnya mereka rajin mengaji kemasjid” tambah salah seorang temanku yang lainnya. Aku hanya mendengarkan dan prihatin atas apa yang terjadi, sangat berbeda dengan saat aku belum meninggalkan kampung ini dulu.
“biasanya jika kami sedang sekolah maka adzan zuhur tidak berkumandang di masjid”. ungkap temanku yang lain. Setelah puas denga segala keburukan yang mereka utarakan yang sebagian dari mereka juga terlibat dalam apa yang mereka katakana akupun langsung mengambil tindakan dengan angkat suara. Hal yang pertama yang aku sampaikan adalah agar beristighfar dan bertaubat memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Mereka mulai terdiam meratapi ucapanku. Laluku lanjutkan kata-kataku,
“bermain catur, itu sungguh perbuatan yang sia-sia, coba kau gunakan untuk mengerjakan PR mu atau membaca buku-buku islami, toh sama saja menguras otak. Minum-minuman main judi? Aku yakin kalian pasti tahu apa hukumnya dan apa akibatnya jika melakukan itu. Tapi kenapa dilkukan? Lebih baik kerja membantu ayahmu membajak sawah sana!” tuturku pada mereka semua namun kuarahkan jari telunjukku dan pandanganku kepada salah seorang dari mereka yang aku tahu bahwa itulah yang ialakukan sehari-harinya. Dia hanya diam dan mengangguk-angguk.
“bagus kamu sudah memenuhi panggilan adzan kemasjid, tapi untuk apa kamu kemasjid kalo hanya sholat sendiri-sendiri akhirnya, coba lah mengalah jadi imam. Sholat dimasjid itu untuk mendirikan sholat tepat pada waktunya dan melaksanakannya secara berjamaah sesuai anjuran nabi. Nah mulai saat ini kamu yang menjadi imam jika tidak ada orang dewa yang kemasjid”. Seperti menobatkan seseorang menjadi perdana mentri. Tapi aku menunjuknya bukan sembarang tunjuk dia adalah teman sekelasku saat SMA dan aku tahu persis apa saja yang diajarkan oleh guru kami saat itu, semunya tidak lepas dari masalah agama karena aku bersekoplah di pesanteren aliyah yang sederajat SMA. Kemudian aku melanjutkan tanggapanku kepada aduan temanku yang lain nya,
“boleh saja main handphone asal tidak berlebihan, maen handphone sampai tidak tadarrusan itu sangatlah keterlaluan, satu pencetan tombol hanphone telah membuang pahala 10 kebaikan jiaka saja waktu maen hanphonemu kau gunakan untuk ngaji. Karena membaca 1 huruf dari alqur,an itu sama dengan 10 kebaikan. Coba kalua 30 huruf, kamu sudah dapat 300 kebaikan. Dan akan mendapat balasan surga. 300 pencetanmu ketombol hp akan semakin mendekatkanmu keneraka tau!” aku mulai meninggikan suaraku karena sedikit geram. Taktahan lagi rasanya aku menahan kata-kata yang sejak mereka bercerita tadi sudah bergejolak ingin aku semburkan. kemudanku lanjutkan kembali kata-kataku setelah menghela nafas beberapa saat.
“kesalahan terbesar kalian adalah membiarkan adzan tidak berkumandang dimasjid. Itu kesalahn fatal. Lebih baik robohkan saja masjidnya, sholat dirumah masing-masing. Toh ada masjid juga tidak diadzani. Bagaimana kampung mau makmur orang jantungnya tidak dihidupkan. Masjid itu jantungnya kampung, kalo masjidnya makmur maka tidak adalagi kemaksiatan dimana-mana. Orang-orang akan berbondong-bondong kemasjid, orang tua anak kecil pokoknya semuanya. Nah untuk itu kita yang muda-muda ini yang mempeloporinya. Kaliankira para pejuang mewariskan kemerdekaan hanya untuk membuat kita bebas mainjudi, minum-minuman, pacaran? Tidak, mereka berharap kita dapat  beribadah dengan tenang sehingga pahalanya mengalir kepada mereka, Begitu!” aku sudah seperti seorang kiayi yang meronta-ronta ditengah kerumunan maksiat untuk emnghancurkannya. Mereka hanya bias mengangguk dan menyadari kesalahan mereka. Kemudian salah seorang teman ku mengangkat suaranya
“kenapa tidak kamu saja yang melakukan semuanya? Kau datangi pintu kami satu persatu untuk ke masjid agar kami tidak lupa untuk sholat. Kau bubarkan kami saat akan maenjudi, minum-minum dan main catur? Kenapa kau malah pergi meninggalkan kami jika kau memang sayang kepada kami dan tidak ingin kami terjerumus jalan yang sesat? Kenapa?” dia mengatakannya sambil menahan isak tangisnya dan mulai menyapukan pergelangan tangannya kemata. Akupun mendekatinya dan merangkul tubuhnya lalu berkata,
“Karena aku yakin kalian biasa melakukannya tanpa aku, karna kalian adalah teman-temanku dan teman-temanku itu adalah orang-orang yang baik”. Lingkaran kamipun mulai merapat mendekati sisi temanku yang telah menjatuhkan airmata penyesalan sekligus harapnnya di tempat yang mulia itu. Malam itu akan menjadi malam yang membekas dihati setiap orang yang hadir didalam perkumpulan itu. Akan menjadi malam lebaran yang mengubah hari esok menjadi labih baik oleh sekelompok pemuda insyaf yang siap membongkar kegelapan menjadi cahaya nanterang penuh kemenangan.
Keesokan harinya setelah sholat idul fitri, ku salami sahabat-sahabat pejungku yang penuh semangat itu dan memohon ma’af saecara lahir dan batin atas segala kesalahn yang telah akulakukan terhadap mereka, baik dalam perkataanku atau dalam prbuatanku yang telah akulakukan secara disengaja maupun tidak disengaja dan mereka pun melakukan hal sebaliknya terhadapku. Setalah menundukkan kepala dihadapan ibuku yang telah mendidikku tanpa lelah, aku berpamitan kepada semua orang yang ada dikampungku melalui kedua adik manisku yang tersayang untuk sekalilagi meninggalkan kampung ini menuntut ilmu ke kota cantik palangkaraya agar berguna natinya di masyarakat.

Tulisan yang Terlupakan

Namaku Khalid Muttaqin, Teman-temanku biasa memanggilku Khalid. Sejak aku dilahirkan pada 01 November tahun 1994 aku dipelihara oleh kedua orang tua yang berlatar pendidikan bisa dibilang tinggi pada jamannya. Jika dilihat dari latar kedua orang tuaku, aku adalah anak yang berpendidikan, baik dari segi moral, agama, sikap, tanggung jawab, maupun hubungan sosial. Namun kenyataannya tidak seperti yang dilukiskan oleh kedua orang tuaku. Aku malah sebaliknya. Jika dikatakan aku bukan anak ayah dan ibuku, mungkin bisa. Maksudnya akhlak ayah dan ibuku tidak menurun kepadaku. Tapi darah dagingku tetaplah dari ayah dan ibu.
Saat menginjak bangku sekolah dasar, aku hampir tidak pernah menempati posisi teratas dalam pringkat kelas, namun selalu dibawahnya. Sekali aku dapatkan peringkat kelas, itu pun karena rivalku tidak bisa hadir saat ujian sebab sakit. Jika dibilang pandai akurasa aku tidak pandai. Hanya saja aku heran mengapa setiap teman-temanku selalu bertanya mengenai pelajaran kepadaku. Mungkin karena ayah dan ibuku adalah seorang guru, jadi aku dianggap pintar, sebenarnya tidak.
Tidak habis enam tahun aku sekolah di sekolah dasar, aku dipindahkan ke madrasah ibtida’iyah yang derajatnya setingkat dengan sekolah dasar. Pindah sekolah dengan alasan mengikuti orang tua memeng sudah umum, yah karna tidak ada alasan lain, maka alasan itu pulalah yang menjadi alasan kepindahan sekolahku. Pindah tugas mengajar ayah dan ibu, berati juga pindah sekolah untukku. Dari desa terpencil dikecamatan Mantangai sana, ke Anjir kecamatan kapuas timur. Padahal hanya tinggal satu setengah tahun lagi akau akan menyelesaikan sekolahku disekolah dasar. Namun beruntungnya sekolahku yang baru lebih baik dibandingkan dengan yang lama, baik dalam bangunannya!. Namun sekolah itu memojokkanku karena seluruh pembelajaran yang telah aku dapat sebelumnya tidaklah dipelajari di sekolah baruku itu. Peringkat runnerup pun tidak bisa aku dapatkan lagi, yang terbaik hanya peringkat kelima dari jajaran paling bawah.
Menyelesaikan jenjang sekolah dasar memang terasa bahagia, namun ternyata kelulusan hanya sebuah awal dari tahap selanjutnya yang lebih sulit lagi. Umur 12 tahun aku dipisah dari orang tuaku untuk sekolah dipesantren, tidak tanggung-tanggung. Amuntai adalah pesantren pilihan ayahku. Namun hasilnya, tidak genap dua tahun aku telah ditarik pulang oleh ayahku untuk sekolah di kampung saja. yang jelas kualitas sekolahnya jauh tertinggal dari sekolah pesantren. Ditarik bukan karena ketidak cukupan faktor biaya, namun karna ulahku yang bukan-bukan di pesantren.
Kehidupan dipesantren yang singkat, tidak berlalu begitu saja. walaupun aku tidak menyelesaikan sekolah tingkat menengahku disana namun aku mendapatkan suatu hal yang berharga yaitu tentang tulisan. Bermula dari kegemaranku mengunjungi perpustakaan, lambat laun aku mulai tertarik untuk memebaca buku-buku novel yang tersusun rapi dalam lemari yang berdebu. Dan akhirnya membca menjadi kegemaranku. Setumpuk novel telah kubaca, sampai-sampai aku rela bolos sekolah untuk mencarI episode lanjutan dari novel yang telahku baca sebelumnya. Setelah sekian banyak novel yang aku baca, muncullah ide dalam benakku suatu cerita yang ingin aku  buat. Namun ide itu tidak pernah terealisasikan, hingga
Suatu hari, dalam pelajaran yang membosankan dan membuatku menguap tak henti-henti. Sembari memain-mankan pulpen ditanganku. Aku pun mencoretkan beberapa patah kata yang ada dalam pikiranku ke atas lembaran kosong yang seharusnya berisi tentang pelajarn di hadapanku. Tidak aku sangka hal mengejutkan terjadi. Sang guru yang merasa tidak diprhatikan datang menghampiriku dan menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Tersentak dari lamunanku gurupun langsung mengambil lembaran yang aku tulis dan menyuruh salah satu temanku membacakannya. Hal yang selalu aku ingat dalam hidupku adalah, sorakan menjadi penutup dari bacaan yang telah aku buat. Sang gurupun memuji tulisanku dengan kata-kata yang selalu aku ingat “ternyata khalid berbakat menjadi penulis, tulisannya bagus!”. Namun guru Bahasa Indonesia itu kembali meluruskan ku agar fokus pada saat pelajaran berlangsung. Dan sejak saat itu pelajaran Bahasa Indonesia lah yang aku gemari.
Pindah sekolah bukanlah suatu kegagalan, kata ibuku. Mungkin saja kamu memang tidak cocok dengan sekolah pesantren, lanjutnya lagi. Aku hanya diam dan mengiakan. Sedang ayahku marah dan hampir saja memebrentikanku sekolah. Sekarang sekolahku adalah sekolah umum tingkat menengah. Pelajaran biologi, fisika, ilmu pengetahuan sosial, apalagi matematika membuatku tidak betah di sekolah baruku, terlebih lagi guru pelajaran bahasa Indonesia yang jarang masuk, membuatku turun sekolah hanya untuk sebuah penantian.
Diwaktu luang yang berharga itulah huruf demi huruf memenuhi buku yang aku siapkan khusus untuk menulis apa saja yang terlintas dalam benakku. Segala hal yang ada disekitar, sesuatu yang aku gemari, menjadi topik utama dalam bukuku. Tak terhindar masalah cinta. Hingga dalam waktu yang lama, buku tebalku telah penuh dengan segala orat-oret yang ada dalam fikiranku. Bermula dari sebuah kegemaranku untuk menulis, sekarang aku mulai berfikir bagaimana agar tulisanku dibaca oleh orang lain. Memang susah dijaman seperti ini mencari orang dengan hoby membaca, jangan kan membaca tulisan yang tercatak rapi, apalgi mebaca tulisan oret-oretan. Mustahil akan ada pembacanya.
Mengakhiri sekolah di menengah umum, kini aku kembali ke ranah lingkungan pesantren. Yang disitu hanya terdapat 2 bahasa, Arab dan Inggris dengan pelajaran bahasa indonesia yang minimum. Kebiasaanku menulis cerita bersastrakan Indonesia lambat laun tergantikan dengan tulisan arab yang dituntut untuk selalu dilatih. Ditambah lagi kekecewaanku terhdap tulisanku sendiri yang tanpa ada pembacanya. Kebiasaan menulis atau Kegemaran menulisku mulai pudar. Hanya saja pulpen dan kertas selalu menyertaiku kemanapun aku pergi. Begitulah hingga aku lulus jenjang menengah atas di salah satu sekolah favorit didesaku.
Mengawali jenjang perguruan tinggi dengan mendaftar SNMPTN di universitas palangkaraya dengan mengambil jurusan Bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua untuk antisipasi ketidak lulusan dalam tes Bahasa Inggris. Ternyata tidak sesuai dengan segala harapan yang diharapkan, kedua-duanya fail. Beruntung dipalangkaraya tidak hanya memiliki universitas tapi juga banyak perguruan tinggi. Setelah memilih-milih beberapa perguruan tinggi. Sekolah tinggi agama islam menjadi pilihan terkhirku. Melalui test jalur kampus, masuk sekolah tinggi yang biasa disebut STAIN palangkaraya, aku diterima.
Masuk kampus, seperti masuk kesebuah dunia baru bagiku. Mungkin itulah yang dipikirkan 300 mahasiswa baru lain yang masuk tahun 2012 itu. Melalui orentasi penerimaan mahasiswa baru sedikit aku kenal tentang kampus, mahasiswa, dan organisasi. Saat pertama mendengar masalah organisasi, seakan organisasi menjadi suatu hal yang wajib bagi mahasiswa, dan satu-satunya yang aku pikir tentang organisasi adalah aku tidak tertarik. Namun setiap orang berkata bahwa organisasi akan memberi manfaat.
Lama memahami kata-kata itu, aku mulai menginjakkan kaki dalam berbagai organisasi, dan memeng benar organisasi bukan lah suatu yang menarik. Hingga sebuah acara  yang sangat menarik hatiku diadakan dikampusku, terlebih lagi ada acara lomba menulis didalamnya, sayang waktu yang terbatas membuat tulisanku tidak maksimal, walaupun sudah sempat aku kirimkan, tulisanku itu hasilnya tidak memuaskan. Menulis bersama Boim Lebon adalah acara yang mengadakan lomba menulis tersebut. Antusias yang tinggi menyertaiku dalam acara tersebut acara yang sama sekali tidak membuatku bosan karna acara tersebut memang benar-benar belajar menulis. Satu hal yang membuatku begitu tertarik adalah cara pempublikasian karya tulisan, salah satu cara ialah bergabung dengan FLP. Sebuah jalan terang benar-benar terbuka sekarang, sebuah impian yang telah lama ditunggu akhirnya bertemu juga. Namun kini lembaran-lembaran berharga berisi karya berharga telah hilang entah tertinggal dimana. Namun sebenarnya hanya hilang sebagai lembaran, karya yang hakiki itu tetap ada dalam diriku yang siap diterbitkan oleh penerbit Khalid Muttaqin.

Sumur di Jalan


    Disuatu pagi yang cerah, tampak anak-anak sekolah sesak memenuhi jalan lintas Kalimantan itu. Bergumul dengan kendaraan, mobil dan truk-truk besar. Namun itu sudah menjadi suatu pemandangan yang biasa bagi warga Anjir.
    Enam kilometer dari kota Kapuas, berdiri sebuah rumah sederhana diantara deretan rumah-rumah besar lagi megah, tidak berhalaman luas, tidak pula terhias tumbuhan bunga di depannya. Hanya saja sebatang pohon mangga tua tumbuh kokoh di depan rumah itu dengan daun rimbunnya yang selalu merindangi pelataran rumah, dan bangku kayu Galam dibuat tepat di bawah pohon itu, yang biasa menjadi tempat berkumpul Hanif dan temannya.
    Waktu telah menunjukkan pukul 07:00 WITA, seorang anak sekolah dengan sepeda tuanya berhenti tepat di depan rumah sederhana itu,
“Haniiiiip” Teriaknya dari tepi jalan
“iyaa sebentar, aku tau pasti kau ingin katakan jika kau tidak cepat  kita akan terlambat lagi”
Sahut Hanif sembari bergegas keluar dari rumahnya.
“betul itulah yang ingin aku katakan, aku tidak mau dicap sebagai tukang lambat hanya karena kelalaianmu tidak tahu diwaktu”
“kamu memang begitu Yan, selalu disiplin dalam waktu, tapi sekarang kau tidak perlu khawatir terlambat lagi”
“ mengapa demikian ?” sahut Riyan penasaran
“aku sudah punya alat agar kita datang tepat waktu dan tidakakkan terlambat lagi”
“cepat katakan saja !  Jangan buat aku penasaran Nif”
Perlahan Hanif singsingkan lengan bajunya yang panjang  seraya menunjukkannya kehadapan Riyan, “aku sudah mempunyai jam tangan, jadi aku bisa memeperkirakan waktu kita untuk berangkat sehingga tidak akan terlambat lagi”  seraya menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang berhiaskan jam tangan baru itu.
“kalau begitu, apa yang kau tunggu ayo lekas kita berangkat” sambung Riyan.
“ayoooo, dengan senang hati” sahut Hanip bersemanagat.
Mulailah mereka dengan sepeda usangnya, bergabung dengan siswa-siswi lain yang satu arah dan tujuan dengan sekolah mereka.
    Dua barisan panjang bak kereta api menghiasi salah satu sisi jalan utama desa itu. Siswa yang berseragam biru putih membuat kesan sambungan disetiap jarak antar sepeda di depan dan belakang. Namun pemandangan ini hanya dapat dilihat pagi dan tengah hari saat siswa-siswi pulang sekolah.
Di tengah jalan,
“ Tooooooooooot” Tiba-tiba kelakson keras dari truk traller serentak mengejutkan siswa-siswi di sisi jalan.
“Awaaaaaas !!”  teriak Riyan
Serentak siswa-siswi turun ke bahu jalan, memebiarkan truk traller itu berlalu.
“ hampir saja truk itu mengenai sepeda ku” geram Hanif
“berbahaya sekali tadi” sambung Riyan lagi
“ iya, bersepeda satu jalan dengan segala jenis kendaraan memang bukan suatu ide yang baik Yan” sembari melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti.
“betul sekali, apa lagi saat sedang diadakan perbaikan jalan, rambu-rambu tanda hati-hati itu semakin mempersempit jalan sempit ini”
“tapi bukankah rambu-rambu itu membuat kita lebih hati-hati Yan?”
“memang benar membuat kita lebi hati-hati dan itu juga sebagai tanda peringatan bahwa ada perbaikan jalan. Namun bagaimana tidak mengganggu lihat saja rambu-rambu itu telah memakan separuh bagian jalan dan tentu saja itu semakin memepersimpit jalan kita”
“ bukankah jalan ini bukan milik kita Yan, jalan ini dibuat oleh pemerintah, tanahnya pun sudah dibeli oleh pemerintah, jadi sudah sewajarnya rambu hati-hati dipasang di jalan yang diperbaiki, agar pengguna jalan tahu kalau disitu sedang  ada perbaikan jalan”
“iya kamu memang benar, namun untuk jalan sepenting lintas kalimantan penghubung
Kalteng-sel ini dengan mobil-mobil dan kendaraan ngebut di atasnya, pemberian rambu hati-hati itu tentu sangat mengganggu, lagi pula pengguna jalan berhak mendapatkan kenyamanan berkendara karna mereka telah membayar pajak setiap tahunnya”.
“bukankah perbaikan jalan termasuk pelayanan kenyamanan berkendara Yan?”
“kalau begitu mengapa jalan di depan rumahku belum saja diperbaiki” sahut Riyan dengan suara meninggi “pemerintah seharusnya tidak hanya memperhatikan pengguna jalan, bagaimana dengan warga yang setiap harinya harus menghirup debu, sebab lambatnya perbaikan di laksanakan”
“jadi menurutmu perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah masih lamban Yan”
“iya tentu saja” tegas Riyan
“mengapa demikian? Kita tidak bisa menjadikan sesuatu selesai dengan sekejap mata, semua butuh waktu dan proses”
Riyan terdiam, tak satu patah kata pun yang dapat dilontarkannya untuk menjaab pertanyaan Hanif. Sementara itu sepeda terus melaju. Sisi-sisi jalan yang penuh dengan tumpukan material terkadang membuat perjalanan terhenti, untuk melintas bergantian dengan kendaraan yang berlainan jalur.
Setelah beberapa lama keadaan hening tanpa ada dialog antara dua sahabat itu.
“mengapa kamu terdiam Yan ?” Hanip memecah keheningan. “apa kau tidak  bisa menjawab pertanyaanku” sambung Hanif lagi.
“bukannya aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, aku teringat kejadian 6 bulan yang lalu” jawab Riyan dengan suara perlahan. Tiba-tiba kesedihan tampak menyelimuti mukanya.
“kejadian apa itu Riyan sahabatku ?” Tanya Hanif lirih
“sebuah truk terguling karena sumur di jalan depan rumahku, nahas kucing kesayanganku tertimpa truk itu dan mati”
“yang benar saja Yan ada sumur di jalan depan rumahmu?” tanya Hanif bingung karna memang tidak terdapat sumur di tengah jalan aspal manapun
“ lubang besar di jalan itu daripada jalan rusak, aku lebih suka menyebutnya sumur di jalan. Yang lebih memprihatinkan lagi, sejak saat kejadian itu hingga sekarang belum ada tindak lanjut dari pemerintah, karena itu pemerintah aku anggap lamban dalam penanganan perbaikan jalan”
“jadi menurutmu apa tindakan yang harus dilakukan pemerintah dalam hal ini ?”
“mungkin mereka harus menambah tenaga kerja yang diturunkan ke jalan, walalu tidak sekejap selesai setidaknya dapat diselesaikan dengan waktu yang lebih singkat”
“hahahaha…” tawa Hanif  lega
“apa yang kau tertawakan Nif ? tidak ada yang lucu”
“aku fikir kau tidak dapat menjawab pertanyaanku, ternyata kau bisa”
“itu bukan jawaban, sebenarnya itu hanya sebuah pendapat dan tidak ada yang salah dengan pendapat”
“iya benar” sahut Hanif seraya menganggukkan kepalanya “ sepuluh menit lagi lonceng sekolah akan berbunyi, sebaiknya kita memisahkan diri dari rombongan dan bersepeda lebih cepat” sambung Hanif
“baiklah, ayo lekas” jawab Riyan dengan sigap sembari mengayuh sepedanya dengan lebih cepat.
Perlahan mereka meninggalkan barisan, mendahului siswa-siswi yang lain. Tak terkecuali kendaraan yang melaju perlahan, tidak ada waktu lagi untuk mereka menunggu kendaraan itu menambah kecepatan nya.
    Setelah 5 menit mereka bersepeda, sampailah mereka pada tujuan. Keramayan bisingan kendaraan kini terganti dengan keramayan siswa-siswi yang menunggu lonceng masuk berbunyi. Setelah memarkir sepeda,
“ayo lekas Nif, waktu kita tidak banyak” sembari berlari kecil menuju kelasnya
“iya, aku pun tahu itu. Untuk apa jam tanganku ini jika kita masih terlambat masuk sekolah”
“haha benar sekali, kalau masih terlambat juga lebih baik buang saja jammu ke sumur di jalan depan rumah mu itu ”
Hahahahaha keduanya serentak tertawa.